Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2009

Jurnal Manusia

sahabatku, matahari senja. aku selalubertanya kepadamu, apakah aku ini manusia? setelah bersetubuh dengan ruang dan menjelajahi waktu, aku takpernah menemukan jawabnya, dan kau hanya diam. sahabatku, matahari senja. akhirnya aku berandai-andai. andai saja aku ini benar manusia, berarti aku ini adalah mahluk paling mulia, yang diciptakan penciptaku dan juga penciptamu. akupun kembali bertanya apakah benar aku ini mahluk paling mulia? lebih mulia dari engkau yang setiap senja memencarkan rona indah meskipun pekatnya malam mulai merenggut cahayamu. dan di pagi hari nya tanpa sesal kau muncul lagi dengan seutas senyum indahmu. sedangkan aku? sahabatku, matahari senja. kau pernah bilang dalam diammu. yang boleh kencing di jalan adalah anjing jalanan. tapi dengan pongah aku merampas haknya, aku kencingi jalanan. aku pun kembali bertanya apakah merampas hak anjing jalanan adalah perbuatan mulia hingga aku dikatakan mahluk paling mulia? sahabatku, matahari senja. apakah pakaian yang membuat ak...

Puisi Lama

Menggapai cahaya cinta Dalam dekapan cahaya langit mentari adalah titik kecil dilautan hingga netra akan tuna dengan kemilaunya langkahpun terhenti, tangan yang menggenggam gelas dunia bergetar hingga menumpahkan air didalamnya. Tapi tubuh yang kehausan akan terus menenggak arak kehidupan. Adalah jiwa-jiwa bermahkota cinta yang dapat memandang langit senja. Adalah senyumnya ketulusan, bicaranya kemulyaan, langkahnya kasih sayang, hatinya cermin kehidupan, tujuannya adalah menggapai cinta-Nya dialah pecinta yang dicinata. Subang, pebruari 2006

Matahari Tidak PernahTerbenam di Negeri Senja

Gambar
Matahari Tidak PernahTerbenam di Negeri Senja Hidupku penuh dengan kesedihan – karena itu aku selalu mengembara. Aku selalu berangkat, selalu pergi, selalu berada dalam perjalanan, menuju ke suatu tempat entah di mana, namun kesedihanku tidak pernah hilang. Kesedihan, ternyata, memang bukan sesuatu yang bisa ditinggalkan, karena kesedihan berada di dalam diri kita. Aku selalu mengira kalau melakukan perjalanan jauh maka kesedihan itu akan bisa hilang karena tertinggal jauh di belakang, tapi itu tidak pernah terjadi. Ada segaris luka dalam hatiku yang telah mendorong aku pergi jauh dari kampung halamanku dan sampai sekarang belum pernah kembali. Mungkin aku tidak akan pernah kembali meskipun kesedihanku suatu hari akan hilang. Aku sudah terlanjur tidak pernah merasa punya rumah, dan tidak pernah merasa harus pulang ke mana pun dan aku menyukainya. Barangkali kesedihanku tidak akan pernah hilang tapi sudahlah, aku tidak ingin memanjakan perasaan. Aku sudah selalu membiasakan diriku hid...