Maju mundurnya sebuah bangsa, bisa di lihat dari cara rakyatnya ngaduk baso.

 



Kok bisa?

Jadi begini kawan...
pernah dengan istilah "Butterfly Effect"?

istilah dalam teori kekacauan yang berhubungan dengan "ketergantungan yang peka terhadap kondisi awal", di mana perubahan kecil pada satu tempat dalam suatu sistem tak linear dapat mengakibatkan perbedaan besar dalam keadaan kemudian (Wikipedia)

Terus... apa hubungannya ngaduk baso dengan
dengan maju mundurnya bahkan kehancuran sebuah bangsa? (Lebay... ^-^)

Tenang kawan...
begini...

Biasanya kalau kita beli baso, si emang tukang baso, naro dulu mie, sayuran dan basonya. Baru di kasih bumbu Garam, kecap saos cuka dan sebagainya. Iya kan?

Padahal logika sederhananya, kalau mau enak, harusnya taro bumbu dulu, garam, kecap, saos, cula, sambel dll di aduk dan di cobain, kalau sudah pas baru taro mie sayur baso, tulang dll nya.

Tapi da kita mah, ya udah lah, gapapa...orang juga kaya gitu.

padahal, kalau cara yg pertama kemungkinan tidak teraduknya sangat besar, ada saos yang menggumpal di satu sisi, asinnya hanya di sebagian dan lain sebagainya.

Terus apa hubungannya hal sepele kaya gitu dengan kehancuran sebuah bangsa...?

Begini kawan....
dari cara ngaduk baso tadi, itu menunjukan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang tidak terbiasa berfikir. Bangsa kita adalah bangsa yang terbiasa melakukan apa yang orang lakukan.

Contoh...
bangsa barat, kalau liat rumah berantakan dia berfikir, bagaimana kumaha caranya agar rumah tidak berantakan, maka lahirlah vacuum cleaner, lahirlah mesin cuci... itu lahir dari bangsa barat kan?

kalau bangsa kita beda, karena tidak terbiasa berfikir, kalau liat rumah berantakan, bagaimana caranya agar tidak berantakan, maka rekrut pembantu rumah tangga, karena sewa pembantu, muncullah hirarki, orang yang sangat kaya itu begitu di hormati...

bahkan kalau ada yang demo anti korupsi, si pendemo teriak-teriak ganyang korupsi.. gantung koruptor dan lain sebagainya, ketika si pejabat (yang diduga koruptor) nya datang, si pendemo itu sun tangan... itu di bangsa kita...

nah... hirarki itu muncul dan masalah-masalah lain itu muncul karena kita tidak terbiasa berfikir.
Lebih parah lagi kalau hal seperti itu di bungkus dalam label "agama"...

kumaha maksudna?

Begini...
di kita ada istilah "Sami'na Wa Atho'na" Saya dengar dan manut aja...

padahal hal yang di lakukan adalah Taklid (Taklid atau Taqlid (Arab: تقليد) adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui sumber atau alasannya. - Wikipedia)

Kumaha lamun Kiyai na ternyata pas ngomong teh ngalindur? Atau si Pemimpin pas memberi pendapat teh, salah baca... ?

terus urang kudu kumaha?
nya teu kukumaha, cuma ngajak aja kalau kita harus terbiasa berfikir...

Taat itu di sertai Ilmu...
dan ilmu itu datang kalau kita terbiasa berfikir, loba nanya...

ulah kuma ceuk batur.
komo bari mematahkan budaya diskusi dengan memberikan Intruksi...

sakitu weh ieu mah...
hayu urang ngabaso...

rd. Sholeh Sutawijaya...
(Lain sasaha)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Matahari Tidak PernahTerbenam di Negeri Senja

Puisi Lama

Aku Kopi dan Twitter